Terinspirasi dari tulisan dalam salah satu kolom Kompas yang bertajuk "Parodi" ditulis oleh Samuel Mulia, saya jadi tertarik untuk coba membuat tulisan-tulisan reflektif tentang " Celoteh Hati". Saya kagum dengan "kejujuran" penulis yang berani untuk begitu terbuka menceritakan perasaan-perasaan dan pandangan-pandangan hatinya dalam tulisan, dan anehnya lagi ternyata saya yang membaca juga ikut menikmati tulisan tersebut.
Nah, berangkat dari sana, saya juga ingin menuliskan celoteh-celoteh hati seringkali muncul sebagai suatu reaksi terhadap suatu kejadian yang ditemui sehari-hari. Kadangkala, jujur akan perasaan itu tidak gampang lho,... seringkali pilihan untuk diam itu diabil karena khawatir jika oranglain tahu tentang bagaimana hati kita sebenarnya bereaksi. Sebagai manusia, kita ini sempurna dengan "ketak-sempurna-an" kita. nah, sayangnya saya sendiri sering terjebak dengan keinginan semu untuk jadi "sempurna". Inginnya sih disukai semua orang, dimengerti semua orang, diterima semua orang, de el-el deh, tapi kan hal ini sebenarnya mustahil. kenapa? ya jelas karena kita ini manusia tho? mengharap semua orang setuju dan sepaham dengan kita adalah hal yang mustahil, karena manusia itu "unik" dan dengan segala keunikannya maka akan selalu ada perbedaan.
Dalam upaya untuk bisa berinteraksi dan bersosialisasi, seringkali kali kita diskusi dengan hati kita sendiri. bagaimana seharusnya saya bersikap atau berbicara, haduh pokoknya susah deh..... Tapi ya begitulah, kecuali kita bener-bener siap untuk bisa hidup bagahia dengan kesendirian kita.
Celoteh Hati ini isinya ya, tentang celoteh hati saya tentang apa saja yang sering saya temui dalam keseharian saya sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, ibu, istri, anak, guru, mahasiswa, teman, musuh, dll, dan tentunya sebagai diri sendiri.
Saya tidak berharap apa-apa dari para pembaca, kecuali mereka bisa menikmati tulisan saya. Itu saja. Cukup.
Salam Kenal
No comments:
Post a Comment